Fieldtrip ke Pengalengan - Bandung : Sebuah cerita tentang Villa, Rumah Boscha, Rumah Hitam,Tahura dan Gua Jepang



15 – 16 januari 2014....





Gerimis bersenandung
Mengiringi perjalanan kami menuju Pengalengan
Sesekali ia hilang, sesekali ia menumpahkan hujan yang banyak
Tapi perjalanan itu sungguh terasa panjang
Wajah – wajah lelah satu per satu terlelap
Bermimpi , Berharap, Bercita
Pengalengan, kami menanti segera menginjak tanahmu
Malam pun berselang
Dingin mengucapkan selamat datang
Ayo bangun kawan
Kita sudah sampai di Pengalengan



1. Tentang Villa


Akhirnya setelah perjalanan lebih dari 5 jam, sampai juga kami di Pengalengan pada hari Rabu malam. Rombongan pasacasarjana 2013 menuruni bus dan masuk ke dalam villa. Beberapa saat kemudian semua sudah duduk manis di ruang tengah bersebelahan dengan perapian, kami berkerumun diantara Dosen kami, Pak Bambang.

Yummy! Makan malam yang ditunggu pun tiba, kami benar – benar kelaparan setelah perjalanan panjang. Setelah isoma kami berkumpul kembali di ruang tengah, karena satu persatu akan mempresentasikan tugas bacaan. Tak terasa jam bergerak hingga menunjukkan pukul 1 malam, Alhamdulillah bobo time akhirnya datang juga.

Keesokan harinya, anak – anak pasca terbagi atas 3 kubu. Kubu pertama melesat keluar jalan pagi hingga ke kebun teh, kelompok kedua menyusul menikmati pemandangan di halaman rumah boscha dan sungai indah yang mengalir di depan halamannya. Kelompok ketiga, bersih diri, lebih memilih tinggal di villa. Tapi ketiganya kemudian berkumpul kembali di di ruang tengah untuk sarapan, hehe…






Fieldtrip misi pertama secara resmi dibuka pak Bambang dengan mengambil rute ke arah bendungan, menyusuri jalan beraspal, menikmati pemandangan rumah –rumah setempat, lalu berkunjung ke Rumah Hitam.



2. Tentang Rumah Hitam

Rumah hitam, berdasarkan catatan sejarah dibangun pada tahun 1896, berarti hingga saat ini umurnya sudah mencapai 118 tahun. Dihuni oleh keluarga secara turun menurun, dan kini menjadi obyek pelestarian dan wisata. Disebut rumah hitam karena sebagian besar bangunan diberi cat berwarna hitam. Cat campuran minyak tanah dan aspal ini merupakan bahan pengawet yang mencegah rayap merusak bangunan rumah. Rumah hitam dahulu merupakan kediaman para pekerja perkebunan teh. Di dalam rumah ini masih terdapat beberapa dokumen tua yang menunjukkan seperti apa sistem perkebunan pada jaman Belanda dulu.




3. Tentang Rumah Bosscha






Dari rumah hitam rombongan bertolak menuju arah Rumah Bosscha. Bosscha adalah seorang Belanda yang memiliki perhatian terhadap pendidikan di Hindia Belanda khususnya bidang astronomi. Selain memiliki andil dalam pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB), dahulu ia adalah pemilik seluruh perkebunan teh diseluruh kecamatan Pengalengan.


  


Rumahnya yang khas bercita – rasa budaya Belanda dengan bunga potong di dalam rumah, deretan kursi tamu besar, lampu antik, piano, perapian, pintu tebal dan tinggi, juga jendela – jendela besar, membuat cahaya masuk berlimpah ke dalam rumah.





Karena padatnya jadwal dan terbatasnya waktu, rombongan akhirnya meninggalkan villa dan menuju ke Taman Hutan Raya (Tahura) di kota Bandung. Sepanjang jalan, kami belajar beberapa fungsi pohon. Saat melewati jembatan layang Pasopati, tampak sebuah taman terletak di bawahnya sedang dikerumuni beberapa remaja dengan berbagai aktifitas. Katanya itu adalah taman Jomblo. Unik juga.


 4. Taman Hutan Raya (Tahura)



Tiba di Taman Hutan Raya, kami menikmati keindahan hutan di dalam kota. Pohon – pohon besar tumbuh dengan alami di hutan ini. Sesekali kami dijelaskan Pak Bambang tentang beberapa jenis pohon. Rute berlanjut dengan menuruni tangga dan jalan setapak, membawa kami ke lokasi Gua Jepang. Suasana berubah antara takjub dengan ngeri, nah rasa apa itu? Beberapa dari kami masuk dengan menyewa senter dan orang – orang yang memberikan jasa sewa senter. Seorang pemandu mengiringi kami menyusuri gua dan memberikan penjelasan tentang gua tersebut. 

5. Gua Jepang Tahura




Gua jepang ini dibuat dengan mengerahkan pekerja pribumi untuk melubangi batu cadas sehingga membentuk gua. Utilitas seperti ventilasi udara turut dibuat, bentuknya lebih kecil dan sempit daripada ruang utama yang berfungsi sebagai mobilitas manusia. Udara di dalam gua terasa dingin dan sejuk.




Dahulu ketika jaman penjajahan jepang wilayah Tahura ditutup untuk umum. Gua tersebut dipakai jepang sebagai tempat menyimpan amunisi, mengkoordinir pasukan dan tempat tawanan perang. 


Sayang, rute Tahura sebenarnya masih panjang namun karena lagi – lagi waktu yang terbatas, kami akhirnya kembali ke atas, menaiki tangga –tangga yang cukup melelahkan. Setelah sholat di mushola  sebelah kantor pengelola, kami melanjutkan kembali perjalanan ke kota Bandung untuk makan siang. Akhirnya diputuskanlah untuk makan di kantin ITB sebelum pulang ke Bogor. Walau sebagian besar kota Bandung dinikmati dari dalam bus, ternyata cukup memberikan kesan bahwa Bandung kota yang indah dan hijau. Banyak pohon tua masih menghiasi kota ini. See you next time Bandung! 







Komentar

Postingan Populer