Tegarlah Dalam Perjuangan*


Perjuangan,
sebuah kata yang mudah diucapkan, namun semua orang paham bahwa ia sulit untuk dilakukan. Perjuangan bukanlah tentang 'apa' tapi segala yang berkaitan dengan 'bagaimana'. Ia juga bukan tentang 'siapa' tapi lebih utama dilakukan karena 'untuk apa'. Perjuangan digambarkan dengan keringat, air mata, harta, darah, bahkan juga...jiwa. Kurasa perjuangan yang telah hamba ini lakukan masih terpaku pada dua kata saja : keringat dan air mata. Karena itulah berkali - kali bahkan berpuluh - beratus - dan beribu kali Allah kembali menguji agar hamba ini bisa naik ke tangga keimanan lebih tinggi. Ujian dan cinta Allah begitu tipis untuk dibedakan namun begitu dalam untuk dipahami.

Allah menegur,
Dalam lisan seorang ibu, Allah menegur hamba ini. Benarlah jika kesabaran itu tiada batasnya, namun seringkali kitalah yang membatasinya. Jiwa yang lemah inilah yang membuat dunia ini terasa sempit dan pahit, sehingga melalui lisan sesorang yang kakinya terdapat surga itu...membuat jiwa ini menangis, bukan air mata kesedihan namun air mata suka cita. Jiwa ini bagai meminum air oase karena dahaga yang terlalu lama. Bagai berjalan sekian lama di gurun pasir, ia akhirnya gembira karena melihat rasi bintang di langit. Jiwa ini kembali bersemangat melangkah, karena ia tahu kemana harus pergi.

Kisah itu bermula dari sms yang dikirim dengan hati yang mendung,
" Ibu, liburan ini aku tidak bisa pulang, juga tidak ada uang saku untuk jalan - jalan. Tidak ada hiburan dirumah Eyang. Laptop tidak ada, televisi pun bulan lalu sudah rusak" dalam hatiku terucap akulah mahasiswa yang malang di liburan semester ini.

Beberapa menit kemudian Beliau membalas,
" Hari - hari dilalui dengan puasa kalau kamu kuat, mengaji dan berdoa untuk kamu dan juga untuk ibu bapak"

Deg, bibirku merapat, mata ini terpejam, jiwa ini serasa tercambuk, air mataku meleleh tak bisa kubendung. Ibu terima kasih sudah mengingatkanku...lagi - lagi aku mengeluh. Maafkan jika sampai saat ini belum bisa membahagiakan ibu dan bapak, semoga suatu hari nanti...


* frasa judul ini diambil dari dialog di novel Heart Reflection karya Wicha Spicca Breeze









Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer